Minggu, 27 Januari 2013

Analisis Abstrak Jurnal Manajemen Pendidikan



Analisis Abstrak Jurnal Higher Education:


Managing Complexity in Higher Education Innovative Ways of Integrity Teaching and Integrity Education Management Using Innovative Case


Oleh:
Peter Odrakiewicz
Global Partnership Management Institute Canada

Sumber:
Ebscho, Global Management Journal










Abstract
This paper will seek to show the management of complexity in higher education through innovative ways of integrity teaching and integrity education management, ethical communication and intercultural management teaching in colleges and universities. This platform will explore learning and integrity competences acquisition from innovatively de  ned and designed case studies including practical examples (interviews, video-conferencing, web based meetings, shared workspaces, wikis, virtual meeting spaces and social and professional web networks) Furthermore learning and integrity acquisition from academic teachers acting as professors and lecturers and also as facilitators of case study for integrity competence acquisition process, students, employees, employers and local community. This research will review impediments to integrity skills acquisition in colleges and challenges of ethical communication and intercultural communication teaching in universities and in organizations. These impediments can include; poor integrity management, lack of consultation with employees, toxic management perpetrated by unaware  owners aiming to implement “bottom line profit” philosophy in knowledge and competence transfer delivery in educational settings and in small to medium training service providers, personality con  icts which can result in people delaying or refusing to communicate integrity philosophy in managerial process, the personal attitudes of individual employees which may be due to lack of motivation or dissatisfaction at work, brought about by insuf  cient integrity awareness and lack of training to enable them to carry out particular tasks. Additionally language barriers, lack of effective and ef  cient integrity organizational structure for good   ow of information and lack of attention to integrity in management of education as a topic may become an impediment to ef  cient integrity and business ethics competence acquisition. As a result of mismanagement of these impediments, students and faculty as well as administration of the university cannot gain advanced managerial integrity competences needed in everyday managerial role at the same time failing to acquire ethical communication, integrity management and intercultural communication skills.
Integrity and intercultural learning challenges us to face new experiences and enables us to develop a global mindset, not only physically, but also in the cyberspace. Innovation and integrity learning comes from new experiences, from exceeding the safety of what we know and living something new and different. A global mindset allows us to transcend the constraints of our own culture and to see the world for what it really is. In order to approach the fast-paced global world, people need to work across disciplines and think holistically. To embrace innovation in its fullness, people must learn to teach adaptability and    exibility in order to be able to cope with the changes that are taking place at the speed of light. Integrity process and philosophy educational transfer using E-learning, blended learning, social media and personalized learning environment can be one of the effective ways to acquire integrity competences in in management.
Keywords: managing complexity, university education, integrity
Terjemahan Abstrak “Managing Complexity in Higher Education Innovative Ways of Integrity Teaching and Integrity Education Management Using Innovative Case” dalam bahasa Indonesia:

Abstrak
Paper ini akan berusaha untuk menunjukkan manajemen kompleksitas dalam pendidikan tinggi melalui cara-cara inovatif dalam integritas pengajaran dan integritas manajemen pendidikan, etika komunikasi dan manajemen pengajaran antarbudaya di perguruan tinggi dan universitas. Program ini akan mengeksplorasi pembelajaran dan integritas akuisisi kompetensi dari mendeteksi inovasi dan studi kasus yang dirancang, termasuk contoh-contoh praktis (wawancara, konferensi video, web berbasis rapat, ruang kerja bersama, wiki, ruang pertemuan virtual dan sosial dan professional jaringan web). Selanjutnya belajar dan integritas akuisisi dari guru akademik bertindak sebagai profesor dan dosen sebagai fasilitator dan juga studi kasus untuk akuisisi integritas kompetensi proses kepada mahasiswa, karyawan, pengusaha dan masyarakat setempat. Penelitian ini akan meninjau
hambatan untuk akuisisi keterampilan integritas di perguruan tinggi dan tantangan komunikasi etika dan pengajaran komunikasi antar budaya di universitas-universitas dan organisasi. Kendala tersebut dapat meliputi, manajemen integritas yang buruk, kurangnya konsultasi dengan karyawan, perusak manajemen dilakukan oleh pemilik karena tidak menyadari penerapan "batas bawah keuntungan" filsafat transfer pengiriman pengetahuan dan kompetensi dalam pengaturan pendidikan dan pelatihan penyedia layanan kecil dan menengah, konflik personal yang dapat mengakibatkan orang menunda atau menolak untuk berkomunikasi integritas filosofi dalam proses manajerial, sikap pribadi individu karyawan yang mungkin karena kurangnya motivasi atau ketidakpuasan di tempat kerja, disebabkan ketidakefisienan integritas kesadaran dan kurangnya pelatihan yang memungkinkan mereka untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu.
Selain hambatan bahasa, kurangnya integritas struktur organisasi yang efektif dan efisien untuk alur yang baik bagi informasi dan kurangnya perhatian terhadap integritas dalam manajemen pendidikan sebagai pembahasan, menjadi rintangan bagi efisiensi integritas dan usaha etika dalam akuisisi kompetensi. Sebagai akibat dari kesalahan manajemen karena kendala tersebut, mahasiswa dan fakultas sebagai administrasi universitas tidak dapat memperoleh kompetensi canggih. yang dibutuhkan dalam peran manajerial sehari-hari, pada saat yang sama gagal untuk memperoleh komunikasi etis, integritas manajemen dan keterampilan komunikasi antarbudaya.
Integritas dan pembelajaran antarbudaya menantang kita untuk menghadapi pengalaman baru dan memungkinkan kita untuk mengembangkan pola pikir global, tidak hanya secara fisik, tetapi juga di dunia maya. Inovasi dan integritas belajar berasal dari pengalaman baru, dari melebihi keselamatan apa yang kita ketahui dan dari pembelajaran hidup yang berasal dari sesuatu yang baru dan berbeda. Sebuah pola pikir global memungkinkan kita untuk mengatasi kendala dari budaya sendiri dan untuk melihat dunia untuk apa sebenarnya. Dalam rangka untuk mengikuti cepatnya globalisasi dunia, orang perlu untuk bekerja lintas disiplin dan berpikir secara holistik. Untuk merangkul inovasi dalam kepenatan organisai perguruan tinggi, orang harus belajar untuk beradaptasi dan fleksibel agar mampu mengatasi perubahan yang terjadi dengan kecepatan cahaya. Integritas proses dan filsafat pendidikan ditransfer menggunakan E-learning, belajar, media sosial dan lingkungan belajar yang dipersonalisasi, dapat menjadi salah satu cara yang efektif untuk memperoleh kompetensi integritas dalam manajemen.

Kata kunci: Manajemen kompleksitas, pendidikan universitas, integritas




A.  Analisis Tata Tulis Abstrak Managing Complexity in Higher Education Innovative Ways of Integrity Teaching and Intthrough Education Management Using Innovative Case”
Setiap penelitian ilmiah yang akan dipublikasikan biasanya mempersyaratkan penulisan abstrak untuk setiap naskah yang diterbitkan. Penulis naskah pada umumnya telah melengkap naskah mereka dengan abstrak yang dimaksud walaupun belum semua dalam bahasa Inggris. Termasuk Peter Odrakiewicz yang menuliskan hasil penelitiannya dilengkapi dengan abstrak agar dapat diterbitkan di link journal Ebscho. Abstrak berbeda dengan ringkasan, terdapat perbedaan yang sangat nyata antara abstark dan ringkasan, dilihat dari tujuan, isi, dan bentuknya. Penulis akan menganalisis abstrak dari jurnal Peter Odrakiewicz secara tata tulis, yaitu:
Kedua, terlalu rinci dengan memuat hal-hal yang tidak diperlukan dalam abstrak misalnya, penjelasan tentang metodologi penelitian, rumus-rumus yang dipakai dalam pengolahan data, serta hasil, kesimpulan, dan saran yang lengkap. Ketiga, terlalu. Misalnya, tidak menyebutkan masalah dan hasil penelitian sama sekali. Keempat, tidak memuat hal-hal yang pokok dalam isi naskah sungguhpun telah memberikan uraian yang cukup panjang, sehingga tidak memberikan daya tarik untuk membacanya lebih lanjut. Kelima, bahasa Ingggris yang dipergunakan tidak informatif, karena kesalahan-kesalahan dalam pemilihan kata dan tata bahasa.
1.    Panjangnnya kalimat abstrak
Dilihat dari panjang atau jumlah katanya, abstrak lebih singkat dari ringkasan yang berarti informasi yang diberikan melalui abstrak lebih sedikit dibandingkan dengan ringkasan. Perbedaan ini jelas terlihat dari penyajiannya,  abstrak terdiri atas maksimal 3 paragraf dengan jumlah sekitar 250 kata, dengan spasi 1(Sekolah Pasca UGM, 2012:17). Abstrak yang dibuat Peter Odrakiewicz hanya terdiri dari 2 paragraf, dengan spasi 1 dan terdiri dari kurang lebih 160 kata. Hal ini menunjukkan abstrak masih sesuai aturan panjang abstrak.
2.    Abstrak singkat dan berisi pokok bahasan
Abstrak yang ditulis Peter Odrakiewicz tidak memberikan isi gagasan yang lengkap serta tidak mengikuti sistematika dalam naskah aslinya tetapi secara singkat memberikan pokok-pokok gagasan yang dibicarakan dalam naskah aslinya. Singkatnya abstrak membuat abstrak tidak memberikan informasi yang mendorong pembaca untuk membaca naskah itu lebih lanjut
3.    Cakupan abstrak disesuaikan jenis abstrak
Abstrak terdiri dari dua jenis yaitu abstrak deskriptif dan abstrak informative. Abstrak deskriptif menggambarkan hanya tujuan dan ruang lingkup isi tulisan tetapi tidak menyebutkan hasil dan kesimpulan isi tulisan. Sedangan abstrak yang bersifat informatif memberikan penjelasan tentang latar belakang masalah, masalah, pendekatan/metode, hasil, dan kesimpulan isi tulisan. Oleh karena unsur-unsurnya lebih banyak, maka abstrak informati lebih panjang dari abstrak deskriptif. Tulisan-tulisan dalam jurnal ilmiah biasanya menggunakan abstrak informatif. Walaupun abstrak informatif terdiri atas satu paragraph dengan jumlah sekitar 200 kata, informasi dalam abstrak diharapkan mencakup a. latar belakang masalah, b. rumusan masalah, c. pendekatan atau metode, d. hasil, dan e. kesimpulan pembahan. Masing-masing unsur-unsur itu disebutkan secara ringkas tetapi mudah dipahami.
a.       Latar Belakang Masalah
latar belakang masalah menyebutkan situasi/kondisi yang menimbukan masalah dan perlu untuk dikaji secara ilmiah. Keberhasilan dalam menggambarkan latar belakang masalah itu dengan menarik, mendorong pembaca meneruskan membaca abstrak sampai selesai dan keseluruhan isi naskah. Sebaliknya, kegagalan menarik perhatian pembaca melalui latar belakang masalah ini, dapat membuat pembaca tidak melanjutkan membacanya. Peter Odrakiewicz mampu menyajikan latar belakang masalah dengan cukup menarik.
Adapun latar belakang masalah penelitian Peter Odrakiewicz yaitu berusaha untuk menunjukkan manajemen kompleksitas dalam pendidikan tinggi melalui cara-cara inovatif dalam integritas pengajaran dan integritas manajemen pendidikan, etika komunikasi dan manajemen pengajaran antarbudaya di perguruan tinggi dan universitas. Hal ini dikarenakan perguruan tinggi merupakan suatu institusi yang kompleks dalam berbagai budaya dengan segala permasalahan yang ada. Agar permasalahan yang kompleks dapat ditangani maka perlu manajemen kompleksitas yang inovatif.
b.      Rumusan Masalah
Rumusan masalah menyatakan hal pokok yang dibahas atau pertanyaan yang akan dijawab dalam tulisan berikutnya. Masalah hendaknya dirumuskan dengan singkat tanpa rincian, walaupun dalam isi tulisan masih dikembangkan menjadi beberapa pertanyaan. Sudah barang tentu rumusan masalah terkait langsung dengan latar belakang masalah yang diuraikan sebelumnya.  Adapun rumusan masalahnya yaitu bagaimana menerapkan manajemen kompleksitas yang inovatif di perguruan tinggi, kendala apa yang dihadapi dan dampaknya serta bagaimana solusinya, hal ini terlihat dari alur kerangka berpikir abstrak.
c.       Pendekatan dan Metodologi Penelitian
Pendekatan atau metodologi yang dipergunakan dalam mengkaji masalah itu disebutkan yang utama saja , misalnya menyebutkan populasi tetapi tidak menyebutkan teknik sampling dan jumlah sampel. Dalam menuliskan tentang metodologi dihindari rumus-rumus statistik dalam pengolahan dan analisis data, jadi sangat bersifat deskriptf dan singkat. Peter Odrakiewicz menyebutkan pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu dengan studi kasus dan contoh nyata yang ada di perguruan tinggi Kanada.
d.      Hasil Penelitian
Hasil berisi inti jawaban atau temuan yang diperoleh dari pembahasan yang dilakukan. Hasil hendaknya disebutkan secara nyata tetapi tidak rinci. Hendaknya tetap dijaga agar informasi singkat tentang hasil itu menimbulkan keinginan pembaca mengetahui lebih rinci dan lengkap sehingga menggugahnya membaca isi naskah secara lengkap. Apabila rumusan hasil dituliskan secara lengkap dapat mengurangi motivasi pembaca membaca isi naskah secara lengkap karena merasa telah mengetahui hasilnya dengan m,embaca abstrak.
Adapun hasil penelitian Peter Odrakiewicz yaitu ditemukan beberapa kendala untuk menrapkan manajemen kompleksitas di perguruan tinggi. Kendala tersebut diantaranya, manajemen integritas yang buruk, kurangnya konsultasi dengan karyawan, perusak manajemen dilakukan oleh pemilik karena tidak menyadari, sikap pribadi individu karyawan yang mungkin karena kurangnya motivasi atau ketidakpuasan di tempat kerja, disebabkan ketidakefisienan integritas kesadaran dan kurangnya pelatihan yang memungkinkan mereka untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu. Selain hambatan bahasa, kurangnya integritas struktur organisasi yang efektif dan efisien untuk alur yang baik bagi informasi dan kurangnya perhatian terhadap integritas dalam manajemen pendidikan sebagai pembahasan. Adapun dampaknya yaitu gagal memperoleh pelayanan terbaik pada mahasiswa, dan fakultas gagal mendapatkan kompetensi canggih dan komunikasi etis. Solusi dari kendala yang ada yaitu dengan integritas manajemen dan pemebelajaran.
e.    Kesimpulan
Apabila hasil kajian menggambarkan temuan atau sintesis dari pembahasan, maka kesimpulan menujukan arti dan implikasi hasil kajian. Kesimpulan, termasuk saran yag diajukan atas dasar hasil /temuan kajian.. Sudah barang tentu kesimpulan menjawab pertanyaan atau masalah yang dikemukakan sebelumnya. Mengingat ketentuan dalam menulis abstrak, khususnya berkaitan dengan panjangnya abstrak, kesimpulan dirumuskan secara padat tetapi menggambarkan inti kajian. Adapun kesimpulan dari Peter Odrakiewicz yaitu Integritas proses dan filsafat pendidikan ditransfer menggunakan E-learning, belajar, media sosial dan lingkungan belajar yang dipersonalisasi, dapat menjadi salah satu cara yang efektif untuk memperoleh kompetensi integritas dalam manajemen.
f.     Kata-Kata Kunci
Uraian abstrak biasanya diikuti dengan pencantuman kata-kata kunci yang berjumlah paling sedikit tiga kata/frase. Kata-kata kunci itu mencerminkan konsep-konsep utama yang dibahas dalam tulisan itu. Tidak harus setiap kata kunci tertera pada uraian abstrak tetapi harus terlihat pada isi tulisan. Kata-kata kunci yang dimaksud adalah konsep bukan semua istilah yang dipakai dalam tulisan itu. Adapun maksimal yaitu 5 kata kunci (Sekolah Pasca UGM, 2012: 16). Abstrak dari Peter Odrakiewicz sudah memenuhi persyaratan maksimal dan minimal kata kunci yaitu tiga kata kunci, manajemen kompleksitas, pendidikan universitas, integritas
4.    Penulisan Jurnal Internasional dengan bahasa Inggris
Jurnal Internasional mepersyaratkan menuliskan abstrak setiap tulisan dalam bahasa Inggris. Termasuk Peter Odrakiewicz yang ,emuliskan abstraknya dalm bahasa Inggris, meskipun ia orang Kanada.



B.  Analisis Abstrak Managing Complexity in Higher Education Innovative Ways of Integrity Teaching and Intthrough Education Management Using Innovative Case” Berdasarkan Ilmu dari Mata Kuliah di Manajemen Pendidikan Tinggi.
Abstrak yang ditulis oleh Peter Odrakiewicz menggambarkan betapa kompleksnya pendidikan tinggi, oleh karena itu perlu manajemen kompleksitas  yang inovatif di perguruan tinggi. Perguruan tinggi sebuah instusi yang sangat kompleks dengan peran vital yaitu menghasilkan lulusan berkualitas dan kompeten menuju Indonesia Emas tahun 2020, dengan persaingan tanpa batas.. Pendapat Peter Odrakiewicz ini memperkuat untuk tetap berdirinya Magister Manajemen Pendidikan Tinggi di Indonesia di Sekolah Pasca Universitas Gadjah Mada. Perhatian lebih terhadap manajemen perguruan tinggi sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan perguruan tinggi yang siap bersaing di dunia Internasional.
Kesadaran pentingnnya manajemen pendidikan dalam perguruan tinggi juga menginspirasi DIKTI untuk mengukuhkan UU nomor 12 tahun 2012, tentang pengelolah pendidikan tinggi di Indonesia. Hal ini menunjukkan pemerintah Indonesia memberikan perhatian lebih pada manajemen pendidikan tinggi.Menurut bapak Sahid disebutkan pula bahwa sebuah perguruan tinggi hidup dipengaruhi oleh factor financial, factor manajem, dan factor luar/Globalisasi dunia. Perhatian lebih pada manajemen pendidikan tinggi menjadi sebuah keharusan, karena manajemen ini yang akan mengatur factor keungan dan faktor eksternal.
Adapun beberapa masalah yang dihadapi perguruan tinggi menurut Peter Odrakiewicz diantaranya permasalah pengelolahan antarbudaya, permasalahan tenaga kependidikan terkait etos kerja yang rendah dan stress, dosen yang kurang mampu mengajar dengan teknologi, struktur birokrasi yang kaku, etika dalam perguruan tinggi yang kurang, dan komunikasi yang gagal. Permasalahan itu juga dihadapi oleh Indonesia, termasuk UGM. Peter Odrakiewicz mengusulkan pemecahan masalah dengan “Integritas Pembelajaran/Pembelajaran beretika dan Integritas Manajemen Pendidikan”. Bila diamati solusi yang diberikan Peter Odrakiewicz merupakan solusi dari sisi Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), hal ini menunjukkan peran penting SDM dalam mencapai keunggulan berkesinambungan dalam organisasi termasuk perguruan tinggi. Pernyataan ini sesuai dengan teori Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), bahwa MSDM menjadi sebuah keunggulan bersaing yang berkesinambungan dan merupakan strategi yang tepat. (Noe et.al, 2006).
Adapun strategi nyata dari Peter Odrakiewicz dengan pembelajaran beretika dan manajemen beretika. Peter Odrakiewicz menyadari pentingnnnya etika dalam sebuah perguruan tinggi, hal ini dikarenakan permasalahan yang ada di perguruan tinggi dikarenakan tidak adanya etika/tidak bermoral. Etika muncul melalui pembelajaran studi kasus dan meningkatkan nilai spiritualitas. Hal ini memperkuat pemahaman penulis dari mata kuliah MSDM tentang hal yang penting namun belum diperhatikan pendidikan tinggi yaitu nilai spiritualitas. Nilai spiritualitas tidak hanya mengajarkan tahu ilmu agama, tapi memahami dan menerapkan etika dalam kehidupan sehari-hari. Perguruan tinggi Indonesia menghadapi berbagai permasalahan seperti KKN pegawai, penyelewengan kerja dosen dan tenaga kependidikan, rendahnya moral mahasiswa dan permasalahan kompleks lain karena etika dan nilai spiritualitas yang sangat kurang.
Solusi pembelajaran beretika kepada dosen, tenaga pendidikan dan mahasiswa, merupakan sebuah solusi tepat menuju organisasi yang pembelejar, sebagai upaya manajemen pengetahuan di perguruan tinggi. Sesuai mata kuliah perilaku organisasi bahwa dunia itu berubah dengan ketidakpastiaanya, oleh karena itu perlu strategi untuk menghadapinya yaitu menjadi “learning organization” (Robbins et. al, 2008). Selama ini perguruan tinggi masih jauh dari prinsip learning organization, oleh karena itu perlu adanya perubahan dalam organisasi perguruan tinggi untuk menjadi pembelajar beretika.
Menurut Robbins et. al, (2008), organisasi yang berubah dan pembelajra adalah organisasi yang melakukan sharing visi, memiliki mental model, berpikir sistem,  berprinsip pembelajran tim dan personal mastery. Langkah-langkah yang diungkapkan Robbins et. al menurut penulis sangat tepat untuk dilakukan dengan memegang teguh etika. Agar langkah pembelajaran beretika dapat terwujud maka perlu komponene yang mendukung hal ini juga dijelaskan oleh bapak Sahid dan bapak Djamaludin Ancok sesuai pendapat Robbins et. al, (2008), yaitu komponen Struktutur organisasi yang fleksibel, leadership yang kompeten, dan SDM yang berkualitas. Apabila komponen yang ada mendukung tentunya dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa dapat terus melakukan pembelajaran yang beretika.
Strategi kedua menurut Peter Odrakiewicz yaitu manajemen pendidikan tinggi yang beretika. Selama ini manajemen pendidikan tinggi yang berkembang di Indonesia yaitu manajemen pendidikan konvensional tanpa memperhatikan etika. Diharapkan denga MMPT ini dapat menghasilkan ahli dan praktisi manajemen pendidikan tinggi yang beretika. Manajemen ini berusaha menerapakan sistem manajemen seperti pada umumnya yaitu perencanaan, pengorganisasian, staffing, pelaksanaan, pengawasan, pengontrolan dan evaluasi berbasis etika/moral/spiritual. Ketika semua fungsi manajemen berbasis etika maka setiap pelaksanaan dan pelaksananya akan berusaha bertanggung jawab dan tidak menyimpang.
Dua strategi menurut Peter Odrakiewicz memang tepat juga di terapkan di pendidikan tinggi di Indonesia, melihat permasalahan dan ketimpangan pendidikan tinggi di Indonesia. Integritas pembelajaran terus-menerus dan manajemen pendidikan tinggi yang beretika, mengantarkan perguruan tinggi untuk mampu bersaing di dunia internasional dengan tetap memegan prinsip jati diri Indonesia yang bermoral.


DAFTAR PUSTAKA

Indrajit dan Djokopranoto, (2006) Manajemen Perguruan Tinggi Modern, Yogyakarta: Andi Offset.
Noe, R.A, Hollenbeck, J.R., Gerhart, B., dan Wright, P.M. (2006). Human Resource Management. (5th.ed.) Singapore: McGraw-Hill Irwin.
Robbins, Stephen P.; Judge, Timothy A., (2008), Perilaku Organisasi Buku 2, Jakarta: Salemba Empat.
Sekolah Pascasarjana UGM, (2012), Petunjuk Usulan Penelitian dan Tesis, Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana UGM.

Tidak ada komentar: